HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Gebrakan Subuh Mentan Amran Kumpulkan 44 Bupati Bahas Bioetanol, Mensesneg Kaget: Ini Sejarah!

  



Jakarta - Jam di dinding baru menunjukkan pukul 06.00 WIB pada Senin (21/9), namun mesin birokrasi di Kementerian Pertanian (Kementan) sudah dipacu di kecepatan penuh. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengumpulkan 44 bupati dari berbagai penjuru Tanah Air untuk mematangkan megaproyek bioetanol nasional.

Rapat "kepagian" ini tak pelak membuat Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, yang tersambung melalui konferensi video, terkejut bukan main.

"Terima kasih, Pak Mentan Amran, kami diizinkan bergabung. Ini sejarah bagi saya, rapat paling pagi yang saya ikuti selama dua tahun menjabat," ungkap Prasetyo yang disambut senyum para peserta rapat.

Prasetyo mengaku tak heran melihat ritme kerja Kementan yang "tak wajar" ini. Menurutnya, hal tersebut adalah imbas langsung dari beratnya tanggung jawab yang diletakkan Presiden Prabowo Subianto di pundak Kementan untuk mengunci ketahanan pangan nasional.

Merespons hal tersebut, Mentan Amran menegaskan bahwa bekerja di kala fajar menyingsing adalah standar operasional sehari-hari di kementeriannya.

"Maaf kami mengundang rapat pagi-pagi. Kami di Kementan terbiasa rapat dari dini hari, bahkan tidak ada kamus tanggal merah untuk kami," tegas Amran.

Dari Pangan Menuju Kedaulatan Energi E20

Usai sukses mencatatkan swasembada di delapan komoditas pangan dan memantapkan program biodiesel, Mentan Amran kini mengarahkan radar Kementan pada kedaulatan energi melalui bioetanol (E20).

Untuk memuluskan target implementasi E20 pada 2029 yang menelan kebutuhan hingga 5,53 juta kiloliter bioetanol, Amran menyiapkan tiga senjata utama: tebu, singkong, dan jagung.

"Pangan selesai, bahkan kita sudah ekspor. Biodiesel selesai, kita tidak impor. Sekarang kita masuk ke bioetanol E20," papar Amran.

Di hadapan 44 bupati, ia menginstruksikan agar penanaman tiga komoditas strategis tersebut disesuaikan dengan kondisi agroklimat dan keunggulan komparatif masing-masing daerah. Amran mencontohkan kesuksesan Brasil yang menjadikan tebu sebagai tameng ekonomi fleksibel.

"Seperti di Brasil, kalau harga sedang tinggi jadikan gula, tapi kalau harga rendah langsung alihkan jadi etanol. Kita punya semua sumber daya alamnya. Persoalannya sekarang, mau tanam atau tidak?" tantang Amran.

Haram Monopoli, 30 Persen Wajib untuk Rakyat!

Satu hal yang digarisbawahi Amran dengan tinta tebal: megaproyek kedaulatan energi ini haram dimonopoli oleh segelintir korporat raksasa. Ekosistem industri bioetanol ini harus dirancang untuk ikut menebalkan kantong para petani.

Amran mematok syarat mutlak skema kemitraan yang memihak rakyat kecil dalam pengembangan industri pengolahan nabati tersebut.

"Ini tidak boleh monopoli! Minimal 30 persen harus untuk rakyat. Rakyat harus menikmati dan tumbuh bersama perusahaan. Sekarang tidak boleh lagi di bawah 20 persen. Kalau negara mau kuat, ekonomi rakyat yang harus kita dorong," tegas Amran bersuara lantang.

Bagi Mentan Amran, rumus menyejahterakan petani sejatinya sangat sederhana: berikan jaminan kepastian pasar dan harga beli yang menguntungkan. Jika harga di tingkat petani masuk akal, roda ekonomi Republik ini otomatis akan berlari kencang.

Di akhir arahannya, Amran menitipkan kunci keberhasilan megaproyek ini ke pundak para kepala daerah. Tanpa eksekusi penyediaan lahan dan pengawalan ketat dari bupati, mimpi Indonesia menjadi lumbung bioetanol E20 tak akan pernah terwujud. "Tanpa bupati, tidak mungkin kita bisa bergerak banyak," pungkasnya.