Dikawal Ketua Gapeksindo, H. Badris Salam Dinilai Paling Layak Pimpin REI Sulsel
Makassar — Bursa pencalonan Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Sulawesi Selatan (Sulsel) kian memanas. Langkah H. Badris Salam (HBS) menuju kursi nomor satu di organisasi pengembang tersebut makin tak terbendung. Senin (28/9/2026), Bos perumahan Bumi Findaria Mas ini resmi mengembalikan formulir pendaftaran dengan diapit oleh deretan tokoh berpengaruh.
Salah satu figur kunci yang menyita perhatian dalam rombongan berseragam hijau tersebut adalah Ketua Gapeksindo (Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia) Sulsel, H. Amirullah Nur Saenong. Kehadirannya bukan sekadar bentuk solidaritas kawan sesama pengusaha, melainkan sebuah endorsement politik tingkat tinggi jelang pertarungan HBS melawan kandidat lainnya, Rezza Pratama Said.
Rekam Jejak 'Akar Rumput' yang Menentukan
Bagi Amirullah, menjatuhkan dukungan kepada Badris Salam bukanlah keputusan tanpa kalkulasi matang. Mantan anggota DPRD Maros ini menyoroti rekam jejak panjang Badris yang merangkak dari lapisan paling bawah di industri properti.
"Kami melihat sosok saudara Badris Salam ini pengusaha yang punya pengalaman sangat panjang di dunia properti. Dia memulai dari bawah, jadi dia sangat memahami bagaimana perjuangan seorang pengembang, termasuk menghadapi tantangan pelik dalam membangun dan memasarkan perumahan," tegas Amirullah memberikan kesaksiannya.
Menurutnya, dinamika industri properti di Sulsel ke depan sangat kompleks. REI tidak lagi cukup dipimpin oleh figur yang sekadar jago berbisnis, tetapi mutlak membutuhkan arsitek organisasi yang piawai membangun komunikasi, memiliki jaringan yang menggurita, serta mampu mengayomi semua level anggota.
"Yang penting bagi seorang pemimpin organisasi bukan hanya kemampuan bisnisnya. Saya melihat Badris punya modal kepemimpinan itu karena selama ini ia cukup aktif dan luwes membangun hubungan dengan berbagai kalangan lintas sektor," imbuhnya.
Menolak REI Menjadi 'Klub Eksklusif'
Lebih jauh, Amirullah mengingatkan bahwa kebersamaan adalah harga mati bagi REI Sulsel. Ia menaruh harapan besar di pundak Badris agar organisasi ini tidak berubah haluan menjadi 'klub eksklusif' yang hanya berpihak pada segelintir pengembang raksasa.
"Jangan sampai REI hanya menjadi wadah untuk kelompok tertentu. Kepemimpinan ke depan harus mampu memperkuat kebersamaan, baik itu pengembang besar, pengembang daerah, maupun anggota yang sedang berkembang," sorot Amirullah tajam.
Jika amanah kepemimpinan itu jatuh ke tangan Badris, Amirullah optimistis pengalaman dan jejaring sang calon ketua mampu mendobrak kebuntuan industri. Ia yakin Badris bisa menjembatani komunikasi strategis antara pengembang, pemerintah, pihak perbankan, dan pemangku kepentingan lainnya demi membuka lapangan kerja masif serta menggerakkan roda ekonomi daerah.
Sebagai penutup, Amirullah turut melemparkan sinyal kuat terkait potensi sinergi strategis antara REI dan Gapeksindo di masa depan.
"REI dan Gapeksindo punya ruang yang sangat besar untuk berkolaborasi. Pengembang jelas membutuhkan kontraktor, dan kontraktor membutuhkan proyek. Semuanya bermuara pada satu tujuan: bagaimana pembangunan perumahan serta ekonomi Sulsel bisa berjalan jauh lebih baik," pungkasnya.
