Bukber Lintas Agama di KWI, Shinta Nuriyah Wahid Sampaikan Makna di Balik Bencana
Maret 19, 2026
Jakarta – Istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah Wahid, menyampaikan tiga pesan penting mengenai makna bencana dalam kehidupan manusia saat memberikan tausiyah Ramadan pada acara buka puasa bersama yang digelar oleh Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Aula Henri Soetio, Gedung Konferensi Waligereja Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat.
Dalam tausiyahnya, Shinta Nuriyah Wahid menjelaskan bahwa berbagai bencana yang terjadi di dunia dapat dimaknai dalam tiga perspektif spiritual. “Pertama, bencana itu merupakan peringatan dari Allah kepada manusia. Kedua, bencana adalah ujian dari Allah. Dan ketiga, bencana bisa menjadi hukuman dari Allah,” ujar Shinta di hadapan para tokoh lintas agama dan tamu undangan, sebagaimana siaran pers yang diterima InfoPublik, pada Senin (16/3/2026).
Menurutnya, jika bencana dimaknai sebagai peringatan, maka manusia harus memohon petunjuk kepada Tuhan agar mampu memahami pesan yang ingin disampaikan melalui peristiwa tersebut. “Marilah kita memohon kepada Allah agar diberi ketajaman mata, pikiran, dan hati untuk memahami peringatan yang telah diturunkan kepada kita,” tutur pendiri Gerakan Nurani Bangsa tersebut.
Shinta juga menegaskan, ujian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ia mengingatkan bahwa setiap orang pasti menghadapi ujian, namun mereka yang mampu melewatinya dengan baik akan memperoleh derajat yang lebih tinggi. “Tidak ada manusia yang tidak mengalami ujian. Yang lulus ujian akan naik derajatnya,” katanya.
Sementara itu, jika bencana merupakan bentuk hukuman, Shinta Nuriyah mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri. “MasyaAllah, marilah kita semua bertobat kepada Allah, meningkatkan iman dan takwa, serta memohon agar hukuman yang diturunkan kepada kita segera diangkat sehingga kita dapat hidup dengan tenang dan bahagia,” ujarnya.
Lebih jauh, Shinta juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi bangsa yang menurutnya semakin berat akibat berbagai persoalan sosial dan perilaku sebagian pihak yang dinilai meresahkan masyarakat. “Para pengampu hukum dan pengampu negara seharusnya tidak melakukan tindakan yang justru meresahkan rakyat dan membuat rakyat semakin menderita,” katanya.
Ia pun mengajak masyarakat memanfaatkan momentum bulan suci Ramadan untuk memperbanyak doa dan memohon pertolongan kepada Tuhan agar kondisi bangsa menjadi lebih baik. “Semoga semua pelanggaran yang menyengsarakan rakyat dapat segera dihentikan dan pelakunya diberi hukuman yang setimpal,” ujar Shinta Nuriyah Wahid.
Acara buka puasa bersama tersebut dihadiri berbagai tokoh agama dan perwakilan organisasi keagamaan. Hadir di antaranya Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo, Ketua Presidium KWI Antonius Subianto Bunjamin, serta Ketua Komisi HAK KWI Christophorus Tri Harsono.
Selain itu hadir pula perwakilan organisasi keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Permabudhi, serta Matakin.
Turut hadir pula organisasi kepemudaan lintas agama seperti Pemuda Katolik, Pemuda Muhammadiyah, GP Ansor, GAMKI, serta perwakilan pemuda Hindu, Buddha, Konghucu, dan penghayat kepercayaan.
Acara ini juga dihadiri berbagai komunitas masyarakat, termasuk anak yatim piatu, pekerja kebersihan, tukang parkir, serta sejumlah panti asuhan dari berbagai latar belakang agama.
Buka puasa bersama ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Sahur Keliling Ramadan 2026 yang dilakukan Shinta Nuriyah untuk menyapa masyarakat di berbagai daerah sekaligus memperkuat semangat kebersamaan lintas agama.
Lantunan Ayat Suci Al-Qur'an di KWI
Untuk kedua kalinya dalam sejarah lebih dari satu abad keberadaan KWI, kegiatan Ramadan seperti pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kumandang azan Magrib, alunan musik hadroh, hingga tarian sufi digelar di Gedung KWI. Momentum serupa sebelumnya juga pernah berlangsung pada Ramadan 2025.
Sekretaris Komisi HAK KWI Aloys Budi Purnomo mengatakan kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan lintas iman yang memperkuat semangat persaudaraan.
“Momentum ini menjadi kesempatan bagi semua orang untuk berjalan bersama sebagai umat beriman, apa pun agama dan kepercayaannya, dengan semangat belarasa dan persaudaraan demi terciptanya kerukunan dan kedamaian,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut panitia juga membagikan paket sembako Ramadan kepada kaum duafa bekerja sama dengan Mabes Polri.
Romo Budi berharap kegiatan ini dapat memperkuat semangat saling menghargai dalam keberagaman di tengah berbagai tantangan global maupun nasional. “Semoga momentum ini menjadi berkat bagi umat dan masyarakat yang saling menghormati dalam perbedaan dan keberagaman,” pungkasnya.
