BMKG Dorong Integrasi Data Cuaca, Kualitas Udara, dan Kesehatan Masyarakat
Agustus 31, 2026
Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendorong integrasi data cuaca, kualitas udara, dan kesehatan untuk memperkuat deteksi dini risiko penyakit di masyarakat. Keterhubungan data lintas sektor dinilai dapat membantu menerjemahkan perubahan kondisi lingkungan menjadi informasi dan peringatan kesehatan yang lebih cepat serta mudah dipahami masyarakat.
Menurut Ketua Tim Informasi Pencemaran Udara Direktorat Layanan Iklim Terapan BMKG, Dwi Atmoko, integrasi tersebut penting untuk menghubungkan informasi meteorologi dan kondisi lingkungan dengan potensi dampaknya terhadap kesehatan. Dengan data yang saling terhubung, perubahan cuaca, kualitas udara, hingga fenomena El Nino dapat dipantau bersama dengan risiko kesehatan yang mungkin muncul.
Keterhubungan tersebut diharapkan membantu melihat potensi dampak perubahan cuaca dan lingkungan terhadap kesehatan secara lebih dini. Informasi meteorologi dan kualitas udara yang diintegrasikan dengan data kesehatan juga dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah perlindungan masyarakat.
Dwi menjelaskan, praktik kolaborasi lintas sektor tersebut telah dikembangkan di DKI Jakarta sebagai salah satu testbed BMKG. Dalam pelaksanaannya, BMKG, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta saling membuka akses dan berbagi data untuk kemudian menyusun program secara bersama.
“DKI Jakarta ini menjadi testbed-nya BMKG, bagaimana BMKG itu membuka diri, kemudian Dinas Kesehatan membuka diri, DLH juga membuka diri. Kami saling sharing data, kemudian duduk sama-sama, code signing programnya apa,” ujarnya dalam Dialog KemenCast, Sabtu (29/8/2026).
Salah satu kolaborasi yang tengah berjalan adalah kajian bersama Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengenai dampak paparan partikulat halus atau PM2.5 terhadap pneumonia. Kajian tersebut diharapkan dapat memberikan informasi mengenai keterkaitan kualitas udara dengan risiko penyakit pernapasan.
“Dengan Dinkes DKI kita sedang membuat bagaimana studi, bagaimana dampak dari PM2.5 terhadap pneumonia, sekarang sedang berjalan. Nanti kalau ini ternyata hasilnya positif, ini menjadi informasi baru bagi inovasi Dinkes dengan BMKG dan juga DLH,” lanjut Dwi.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti mengatakan, sudah ada pembahasan mengenai kolaborasi integrasi data ini salah satu gagasan yang didorong adalah pemanfaatan ekosistem Satu Sehat sebagai kanal informasi kesehatan masyarakat.
Integrasi data juga menjadi bagian dari pembahasan dalam Komite Penanggulangan Penyakit Respirasi dan Dampak Polusi Udara. Kolaborasi antarlembaga diperlukan untuk membangun informasi yang lebih terintegrasi, mulai dari kondisi lingkungan hingga kemungkinan dampaknya terhadap penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia. "Ya akan ada Komite, saat ini sedang menunggu persetujuan,” ujarnya.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat memperoleh informasi yang lebih cepat mengenai kondisi lingkungan di sekitarnya sekaligus memahami potensi risiko kesehatan yang menyertainya, sehingga langkah perlindungan dapat dilakukan lebih dini.
