HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Jeritan UMKM Daerah: Kadin Sulsel Absen Kawal Pertumbuhan Ekonomi di 24 Kabupaten/Kota

 


MAKASSAR – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Sulawesi Selatan kini tengah berada di bawah sorotan tajam. Kepengurusan periode 2020-2025 yang dinakhodai oleh Andi Iwan Aras dinilai tak sekadar telah melewati batas masa jabatannya, tetapi juga meninggalkan rapor merah di mata pelaku usaha akar rumput.

Selama setengah dekade memegang kendali, gerbong Kadin Sulsel dianggap kehilangan tajinya. Organisasi yang sejatinya menjadi lokomotif penggerak ekonomi daerah ini dinilai mandul dan tak memberikan dampak signifikan, khususnya bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Ironi ini memantik kekecewaan mendalam. Kadin yang seharusnya berdiri di garda terdepan sebagai "jembatan emas" antara pengusaha dan pemerintah, justru dirasa hadir bak menara gading yang jauh dari denyut nadi ekonomi rakyat.

Jeritan UMKM: Butuh Bukti, Bukan Sekadar Nama

Kekecewaan itu salah satunya disuarakan oleh Rival Pasau (RVP), seorang pelaku UMKM asal Kabupaten Luwu Utara. Ditemui pada Kamis (23/4/2026), Rival tak ragu mengutarakan kegelisahannya atas vakumnya peran organisasi pengusaha tersebut di daerahnya.

"Kalau secara kasat mata, memang tidak ada wujud nyata yang kita lihat, baik itu pergerakan dari Kadin Luwu Utara maupun Kadin Sulsel. Padahal, pelaku usaha kelas bawah seperti kami ini sangat butuh support system dari organisasi sekelas Kadin untuk bernapas dan berkembang," ungkap Rival lugas.

Menurutnya, eksistensi Kadin seharusnya tidak eksklusif. Organisasi ini memikul tanggung jawab moral untuk merangkul seluruh pelaku usaha di 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan, terlepas dari status keanggotaan formal mereka.

"Kadin itu kalau benar-benar difungsikan sebagai jembatan, roda ekonomi di Sulsel pasti melesat. Ekonomi masyarakat di daerah akan benar-benar hidup. Harapan kita, Kadin benar-benar 'turun gunung' hadir untuk pelaku usaha," desak Rival.

Ia pun membandingkan anomali ini dengan manuver Kadin Pusat di Jakarta yang kian agresif memfasilitasi para pengusaha. "Kadin di daerah, termasuk Sulsel, seharusnya bisa mereplikasi apa yang sudah dikerjakan pengurus pusat," tambahnya.

Organisasi Stagnan dan Tudingan 'Mati Suri'

Sentimen serupa menggema di ibu kota provinsi. Rajib, seorang pengusaha asal Kota Makassar, mengkritik keras stagnasi yang terjadi di tubuh Kadin Sulsel. Ia menilai kepengurusan saat ini layaknya organisasi yang sedang koma.

"Saya cukup tahu soal Kadin karena selama ini sering berinteraksi dengan beberapa anggotanya. Fakta di lapangan, organisasinya memang tidak aktif. Praktis tidak ada kegiatan strategis atau program pembinaan yang menguntungkan bagi kami para pengusaha," beber Rajib menyoroti kinerja Kadin Sulsel.

Kritik tajam dari para pelaku usaha ini menjadi tamparan keras sekaligus pekerjaan rumah besar bagi regenerasi kepemimpinan Kadin Sulsel ke depan. Tanpa adanya pembenahan radikal dan program yang menyentuh akar rumput, Kadin berisiko hanya menjadi papan nama tanpa makna di tengah gempuran tantangan ekonomi modern.