Cerita di Balik Toga Chaidir Syam: Dari Merasa Cukup S2 hingga "Terpaksa" Kuliah Demi Lawan Rutinitas Birokrasi
MAKASSAR – Suasana khidmat menyelimuti ruang sidang Universitas Hasanuddin (Unhas), Rabu (11/2/2026). Di tengah cecaran pertanyaan akademis para penguji, Bupati Maros, Chaidir Syam, justru melontarkan sebuah pengakuan kontemplatif yang jarang terungkap ke publik.
Di balik toga yang dikenakannya, Chaidir membuka sisi manusiawinya. Ia mengaku, sebelum berdiri di mimbar tersebut, ia sempat berada di fase "jenuh" secara akademik. Bagi mantan Ketua DPRD Maros ini, gelar Magister Hukum Tata Negara yang telah disandangnya dirasa sudah lebih dari cukup.
"Jujur, saya pernah merasa tidak ingin punya gelar doktor. Cukup sampai S2 saja. Saya merasa tidak ada untungnya," ujar Chaidir dengan nada reflektif di hadapan dewan penguji.
Pernyataan Chaidir bukan tanpa alasan. Sebagai kepala daerah dengan segudang kesibukan, ia sempat menilai bahwa gelar doktoral tidak menawarkan keuntungan praktis bagi karier politik maupun pemerintahannya. Realitas birokrasi yang menuntut kerja cepat, taktis, dan pragmatis kerap kali menenggelamkan kebutuhan akan pendalaman teori.
Namun, waktu dan pergulatan pengalaman mengubah perspektif tersebut.
Chaidir menyadari ada bahaya laten yang mengintai seorang pejabat publik: terperangkap dalam rutinitas administratif yang mematikan nalar kritis. Ketakutan akan stagnasi intelektual inilah yang akhirnya menjadi titik balik.
Keputusan Chaidir untuk akhirnya menuntaskan studi doktoral di Bidang Ilmu Politik Unhas bukanlah didorong oleh ambisi mengejar prestise atau sekadar menambah deretan gelar di belakang nama.
Ia menyebut langkah ini sebagai mekanisme pertahanan diri. Ia harus "memaksa diri" untuk kembali menjadi mahasiswa agar tradisi membaca, meriset, dan memperbarui cara berpikir tidak tergerus oleh tanda tangan dokumen dan rapat dinas.
"Yang saya kejar bukan titel, tapi ruang belajarnya. Menjadi mahasiswa doktoral adalah cara saya menjaga kedisiplinan intelektual di tengah hiruk pikuk pemerintahan," tegasnya.
Momen emosional kembali terasa di penghujung sidang. Chaidir tidak hanya menutup presentasinya dengan jawaban akademis, tetapi dengan sebuah harapan rendah hati kepada para promotor dan pengujinya.
Ia meminta agar bimbingan para guru besar Unhas tidak berhenti hanya karena palu sidang telah diketuk dan gelar doktor telah disematkan.
"Kalau bisa belajar terus, kenapa mesti berhenti? Saya berharap selalu ada ruang untuk membaca dan belajar, dan guru-guru saya tidak berhenti mengingatkan serta mengajari saya," pungkas Chaidir.
Ujian promosi ini menegaskan posisi Chaidir Syam bukan hanya sebagai praktisi pemerintahan, tetapi juga sebagai pembelajar yang menolak hanyut dalam kenyamanan kekuasaan.

0 Response to "Cerita di Balik Toga Chaidir Syam: Dari Merasa Cukup S2 hingga "Terpaksa" Kuliah Demi Lawan Rutinitas Birokrasi"
Posting Komentar